Pasti kalian pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara. Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar "dyah" merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar "Raden". Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari "Ra Dyah" atau "Ra Dyan" atau "Ra Hadyan". Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit pada tahun 1294. Menurut kitab Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Cempaka yang merupakan pangeran Singasari. Raden Wijaya tumbuh di istana kerajaan Singasari.
Kerajaan Majapahit terletak di atas Hutan Tarik di sekitar tepi Sungai Brantas. Pada saat awal berdirinya, kerajaan Majapahit berpusat di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Namun, saat kekuasaan beralih pada Raja Jayanegara, ibukota dipindahkan ke daerah Trowulan. Tidak berselang lama, ibukota dipindahkan lagi ke daerah Kediri pada tahun 1456 Masehi. Kerajaan Majapahit berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M.
![]() |
| Peta Kerajaan Majapahit Sumber: pinterest https://pin.it/1HbXXKe |
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk dengan bantuan Patih Gajah Mada yang berhasil menguasai wilayah yang luas di Nusantara. Menurut Kakawin Negarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaannya terbentang dari Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filifinameskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.
![]() |
| Kerajaan Majapahit |
Daftar Isi:
● Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
●Silsilah Kerajaan Majapahit
● Runtuhnya Kerajaan Majapahit
● Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit
• Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit
• Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit
● Kesimpulan
● Daftar Pustaka
Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
Runtuhnya Singasari
Kisah Kerajaan Majapahit dimulai pada akhir abad ke 13 M diawali dengan runtuhnya Singasari dan adanya serangan dari Jayakatwang (Adipati Kadiri). Menurut Prasasti Kudadu, pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara. Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Raden Wijaya kembali ke istana, ia melihat istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar kerajaan lainnya. Serangan ini dilancarkan pada tahun 1292 M, pada waktu bersamaan Ketika Singasari mengirimkan sebagian pasukannya untuk melawat dalam rangkaian Ekspedisi Pamalayu. Setelah Singasari runtuh, seluruh kerabat Kertanegara melarikan diri, termasuk Raden Wijaya yang merupakan menantu sekaligus keponakan dari Kertanegara. Raden Wijaya melarikan diri ke Madura bersama tiga sahabatnya yakni Sora, Nambi, dan Ranggalawe.
Datangnya Pasukan Mongol dan Kekalahan Jayakatwang
Raden Wijaya Berbalik Menyerang Pasukan Mongol
Silsilah Kerajaan Majapahit
![]() |
| Silsilah keluarga Kerajaan Majapahit Sumber: pinterest https://pin.it/7mV1anp |
1. Raden Wijaya (1293 - 1309 M)
![]() |
| Raden Wijaya Sumber: wikipedia. Raden Wijaya. |
Terjadinya Pemberontakan Lembu Sora dan Ranggalawe
Akhir Hayat
Menurut Nagarakertagama, setelah memerintah selama 16 tahun, Raden Wijaya meninggal pada tahun 1309. Ia dicandikan di Antahpura dengan Arca Jina dan didharmakan di Simping dengan Arca Siwa. Di sana terdapat sebuah arca perwujudan, yang menunjukkan ciri pencampuran tokoh Siwa dan Wisnu yang disebut dengan Harihara. Raden Wijaya digantikan oleh putranya, Jayanagara.
2. Jayanagara (1309 - 1328 M)
![]() |
| Jayanagara Sumber: wikipedia. Jayanagara. |
Jayanagara merupakan raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1309 - 1328, bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Kala Gamet yang berarti "penjahat lemah". Kalagamet merupakan putra dari Raden Wijaya dan Dara Petak. Ibunya berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra.
Nagarakertagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota.
Terjadinya Pemberontakan Nambi, Ra Semi, dan Ra Kuti
Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh pengikut ayahnya. Salah satunya akibat masih eksisnya Mahapati dalam lingkaran kerajaan.
Menurut Nagarakertagama dan Pararaton, Nambi meninggal pada tahun 1316 karena difitnah oleh Mahapati Dyah Halayudha. Dikisahkan bahwa Nambi mendengar berita bahwa ayahnya, Aria Wiraraja sedang sakit keras. Nambi pun mengambil cuti untuk pulang ke Lamajang. Sesampainya di Lamajang, ayahnya telah meninggal. Mahapati datang untuk melayat menyampaikan ucapan duka cita dari raja dan menyarankan agar memperpanjang cutinya. Tetapi, saat di depan raja, Mahapati berbohong dan mengatakan bahwa Nambi menolak untuk kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan. Jayanagara pun mempercayai perkataan Mahapati tersebut dan mengirim pasukan untuk menumpas Nambi. Nambi tidak menduga datangnya serangan mendadak dari pasukan Majapahit. Ia pun membangun benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Namun kedua benteng tersebut dapat dihancurkan pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi dan keluarganya tewas dalam peperangan tersebut.
Pararaton selanjutnya mengisahkan adanya pemberontakan Ra Kuti yang terjadi pada tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit dan jauh lebih berbahaya dari pemberontakan Ra Semi. Kisahnya dimulai adanya ketidakpuasan atas kepemimpinan Prabu Jayanagara sebagai raja. Ra Kuti menghasut penjabat-penjabat Majapahit agar mau berpihak padanya. Akhirnya Ra Kuti berhasil mempengaruhi pejabat-pejabat Majapahit.
Setelah memiliki strategi untuk melawan Majapahit, akhirnya pasukan Ra Kuti menyerang Majapahit. Majapahit makin terdesak oleh pasukan Ra Kuti, dan akhirnya Majapahit harus menerima kekalahannya. Ra Kuti yang memenangkan perang tersebut, berhasil menduduki tahta Majapahit. Ra Kuti akhirnya menobatkan diri sebagai Maharaja Majapahit dengan gelar Sri Maharaja Agung Batara Prabu Kuti Wisnumurti.
Sementara itu, pimpinan pasukan Bhayangkara, Gajah Mada berhasil mengamankan rajanya di Desa Badander dan kembali menyusun kekuatan. Setelah segala sesuatunya sudah siap, denga sejumlah pasukan dan sisa kekuatan yang ada, akhirnya Gajah Mada menggempur Majapahit yang dikuasai oleh Ra Kuti. Dalam serangan tersebut, Ra Kuti, Ra Wedang, Ra Pangsa, Ra Yuyu, dan Ra Banyak bersama sisa pasukannya terbunuh, yang artinya pemberontakan Ra Kuti dapat ditumpas.
Setelah membersihkan sisa-sisa pengikut Ra Kuti, maka Gajah Mada kembali membawa Prabu Jayanagara ke Majapahit. Prabu Jayanagara kembali memimpin Kerajaan Majapahit. Raja juga membunuh Mahapati setelah menyadari fitnahnya yang menyebabkan konflik berkepanjangan untuk mengamankan posisi patih amangkhubumi. Kemudian atas jasanya menumpas Ra Kuti, Gajah Mada diangkat sebagai patih Kahuripan, dan kemudian patih Daha.
Pararaton mengisahkan Ra Semi melakukan pemberontakan di daerah Lasem pada tahun 1318. Pemberontakan ini akhirnya dapat dipadamkan oleh pihak Majapahit dimana, Ra Semi tewas dibunuh di bawah pohon kapuk.
Akhir Hayat
3. Tribhuwana Tunggadewi (1328 - 1350 M)
![]() |
| Tribhuwana Tunggadewi Sumber: sejarahmajapahitlengkap. Silsilah dan Biografi Tribhuwana Tunggadewi, Penguasa Wanita di Majapahit. |
Gajah Mada Mengucapkan Sumpah Palapa
![]() |
| Gajah Mada Sumber: wikipedia. Gajah Mada. |
Sumpah Palapa ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi:
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".
Terjemahannya:
Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
4. Hayam Wuruk (1350 - 1389 M)
![]() |
| Hayam Wuruk Sumber: wikipedia. Hayam Wuruk. |
Mengalami Puncak Kejayaan Sekaligus Awal Kemunduran Majapahit
Penyatuan Nusantara yang diucapkan Gajah Mada pada Sumpah Palapa saat pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi mampu dilaksanakan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk atau selama masa jabatannya, sekitar 21 tahun (1336 - 1357 M). Gajah Mada berhasil menaklukkan wilayah-wilayah sebagai lanjutan dari perluasan cakrawala mandala Majapahit ke Nusantara Timur, sampai dengan wilayah semenanjung Malaya. Hayam Wuruk berupaya meningkatkan kesejahteraan penduduknya, seperti membuat bendungan, saluran pengairan, dan pembukaan tanah baru untuk pertanian.
Di masa pemerintahannya, banyak infrastruktur yang dibangun. Banyak karya sastra yang diciptakan, seperti Nagarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Selain itu, ada juga Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Seni dan budaya juga berkembang pesat.
Pada tahun 1351, Hayam Wuruk hendak memperistri puteri Raja Galuh/Pajajaran, Dyah Pitaloka Citaresmi. Hal ini ternyata ditafsirkan berbeda oleh Gajah Mada. Ketika dalam perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak Kerajaan Galuh untuk menyerahkan puterinya sebagai upeti dan tunduk kepada Majapahit. Kerajaan Galuh menolak permintaan tersebut, akhirnya pecah pertempuran antara Majapahit dan Kerajaan Galuh yang disebut dengan Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357. Perang tersebut menewaskan seluruh rombongan Kerajaan Galuh. Tradisi menyebutkan bahwa sang puteri yang kecewa, dengan hati remuk redam melakukan "bela pati", bunuh diri untuk membela kehormatan negaranya. Akhirnya dalam beberapa tahun Kerajaan Galuh menjadi wilayah Majapahit.
![]() |
| Peta lokasi Pelabuhan Cangu dan Alun-alun Bubat Sumber: pinterest https://pin.it/1ygnE9g |
Akibat peristiwa itu, Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya sebagai mahapatih karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan. Namun pada akhirnya, Gajah Mada aktif kembali beberapa tahun kemudian.
Menurut Nagarakertagama, saat Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan upacara keagamaan ke Simping (Blitar) dikejutkan dengan berita Gajah Mada sakit. Dia segera kembali ke ibu kota Majapahit.
Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada meninggal tanpa keterangan jelas mengenai penyebabnya. Tahun 1367 Hayam Wuruk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Amangkhubumi.
Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389, 25 tahun setelah meninggalnya Gajah Mada. Hayam Wuruk dimakamkan di Candi Ngetos Nganjuk. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, perlahan-lahan Majapahit mengalami kemunduran. Hayam Wuruk digantikan oleh menantunya Wikramawarddhana.
5. Wikramawardhana (1389 - 1427 M)
![]() |
| Wikramawardhana Sumber: wikipedia. Wikramawardhana. |
Menurut Pararaton, sepeninggal Hayam Wuruk tahun 1389, Kusumawardhani dan Wikramawardhana naik tahta dan memerintah secara berdampingan. Wikramawardhana adalah raja kelima Majapahit yang memerintah pada tahun 1389 - 1427 M dengan gelar Bhre Hyang Wisesa Aji Wikrama. Nama aslinya adalah Raden Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana. Wikramawarddhana adalah keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk yang kawin dengan Kusumawarddhani, putri Hayam Wuruk. Sedangkan permaisurinya, Kusumawardhani adalah putri dari Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dari perkawinan tersebut lahirlah Rajasakusuma. Pararaton menyebutkan bahwa Wikramawardhana juga memiliki tiga orang anak dari selirnya, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya.
Pada tahun 1400, Wikramawardhana turun takhta untuk menjadi seorang pendeta. Kusumawardhani memerintah secara penuh di Majapahit. Menurut Pararaton, Wikramawardhana kembali menjadi raja, karena Kusumawardhani meninggal dunia pada tahun 1401. Kusumawardhani dicandikan di Pabangan, bernama Laksmipura.
Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg) antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi
Pada tahun 1401 Wikramawardhana berselisih dengan Bhre Wirabhumi, saudara tiri Kusumawardhani. Perang saudara antara Wikramawardhana (Majapahit Barat) dan Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur) disebut sebagai Perang Paregreg (perang yang berangsur-angsur), yang diperkirakan terjadi pada tahun 1405 - 1406.
Pada tahun 1406 pasukan Majapahit barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel menghancurkan Majapahit timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Dari penyerangan tersebut, pihak Bhre Wirabhumi menderita kekalahan. Akhirnya, Bhre Wirabhumi ditangkap dan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Raden Gajah (Bhra Narapati) yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung dengan nama Girisa Pura.
Pasca Perang Paregreg, Wikramawardhana memboyong Bhre Dhaha, putri Bhre Wirabhumi untuk dijadikan istri.
Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.
Wikramawardhana sebenarnya digantikan oleh Rajasakusuma, putra mahkota dari Kerajaan Majapahit yang bergelar Hyang Wekasing Sukha, tetapi ia meninggal sebelum sempat menjadi raja. Kemudian ia digantikan oleh Bhre Tumapel sebagai putra mahkota. Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram, putri Bhre Pandansalas.
Akan tetapi, pada tahun 1426, bencana kelaparan melanda Majapahit. Bhre Tumapel meninggal sebelum sempat menjadi raja pada tahun 1427. Ia dicandikan di Lokerep bernama Asmarasaba. Disusul kemudian kematian istri dan putranya, Bhre Lasem dan Bhre Wengker.
Wikramawardhana meninggal pada akhir tahun 1427. Ia dicandikan di Wisesapura yang terletak di Bayalangu. Kedudukan sebagai pewaris takhta kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha, putri Bhre Wirabhumi.
6. Suhita (1429 - 1447 M)
![]() |
| Sri Suhita Sumber: boombastis. Sejarah 4 Wanita Cantik Yang Pernah Berkuasa di Nusantara. |
Sri Suhita merupakan ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1429 - 1447 M, yang bergelar Dyah Ayu Kencana Wungu. Sri Suhita memerintah bersama suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.
Pada tahun 1433, Sri Suhita membalas dendam pada Raden Gajah yang telah membunuh Bhre Wirabhumi, kakeknya.
Pada tahun 1437, Bhatara Parameswara Ratnapangkaja meninggal. Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1447, Sri Suhita meninggal pula. Mereka dicandikan bersama di Singhajaya.
Karena tidak memiliki putra mahkota, Sri Suhita digantikan oleh adiknya, Dyah Kertawijaya.
7. Dyah Kertawijaya (1447 - 1451 M)
![]() |
| Dyah Kertawijaya Sumber: pinterest |
Pada tahun 1447 masehi, Kertawijaya naik takhta menjadi raja ketujuh Majapahit yang memerintah pada tahun 1447 - 1451 M, dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakrawarrdhana atau Brawija I. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel. Menurut pararaton, Kertawija adalah putra Wikramawardhana dari selirnya.
Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus. Tak hanya itu saja, Kertawijaya mendapat halangan yang merintang yakni peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.
Dyah Krrtawijaya turun takhta sesudah gagal menghadapi pemberontakan Rajasawardhana. Kertawijaya akhirnya meninggal pada tahun 1451. Ia kemudian dicandikan di Kertawijayapura.
8. Rajasawardhana (1451 - 1453 M)
![]() |
| Rajasawardhana Sumber: pinterest |
Raja ke delapan Majapahit ini bergelar Brawijaya II. Rajasawardhana merupakan raja Majapahit yang menggantikan Dyah Kertawijaya. Berdasarkan Serat Pararaton, Rajasawardhana identik dengan Bhra Hyang Purwawisesa.
Ada yang percaya bahwa sang raja merupakan adik dari Kertawijaya yang melakukan kudeta dan membunuh kakaknya. Namun, pararaton menyebutkan bahwa sang Raja merupakan putra sulung Kertawijaya.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya prasasti Waringin Pitu pada tahun 1447 Masehi.
Kekuasaan Rajasawardhana berakhir pada tahun 1453 Masehi dan selama 3 tahun belum ada penggantinya sehingga Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan hingga tahun 1456 M. Menurut catatan sejarah, kekosongan pemerintahan Majapahit dikarenakan perebutan kekuasaan antara Rajaswardhana Dyah Suryawikrama dan Girishawardhana Dyah Samarawijaya. Dalam perebutan kekuasaan tersebut, berhasil dimenangkan oleh Girishawardhana.
9. Girishawardhana (1456 - 1466 M)
![]() |
| Girishawardhana Sumber: dictio.id |
Setelah mengalami kekosongan kekuasaan selama 3 tahun lamanya, akhirnya Majapahit mendapatkan raja baru yaitu Girisawardhana Dyah Suryawikrama pada tahun 1456 - 1466 Masehi, dengan gelar Brawijaya III. Pada masa kepemimpinannya, Majapahit diwarnai dengan bencana gunung meletus yang terjadi pada tahun 1462.
Menurut sejarah yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Waringin Pitu, raja Girishawardhana merupakan putra kedua Raja Kertawijaya.
Pada tahun 1466, Girishawardhana meninggal dan dicandikan di Puri. Ia digantikan oleh Bhre Pandasalas sebagai raja selanjutnya
10. Singhawikramawardhana (1466 - 1468 M)
![]() |
| Singhawikramawardhana Sumber: pinterest https://pin.it/13GY94B |
Singhawikramawardhana yang dikenal dengan nama Dyah Suraprabhawa atau Bhre Pandansalas memerintah Majapahit dari tahun 1388 hingga 1396 Saka (1466 - 1468 M) dengan gelar Brawijaya IV.
Pada tahun 1468, kekuasaan Singhawikramawardhana digulingkan oleh keponakannya sendiri yakni Bhre Kerthabumi. Singhawikramawardhana mengungsi ke Daha. Sejak saat itu, Singhawikramawardhana digantikan oleh Bhre Kerthabumi.
Menurut Prasasti Trailokyapuri yang dikeluarkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) meninggal pada tahun 1474. Setelah meninggal, Dyah Suraprabawa disebut dengan gelar anumerta Bhatara Mokteng Dahanapura.
11. Bhre Kertabhumi (1468 - 1478 M)
Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V merupakan raja Majapahit yang memerintah hingga akhir hayatnya pada tahun 1478 Masehi. Prabu Brawijaya merupakan keturunan langsung Rajasawardhana, raja ke delapan Majapahit. Namun saat memimpin pemerintahan, Majapahit sudah berada diambang keruntuhan. Pada tahun 1478, Bhre Kerthabumi merestui putranya yang lahir dari selir Cina, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak dengan pusat pemerintahan di Bintara (Glagahwangi).
Pada tahun 1478, kekuasaan Bhre Kerthabumi yang berpusat di Majakerta (Trowulan), digulingkan oleh Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya (putra Singhawardhana Dyah Samarawijaya). Akibat serangan Girindhrawardhana tersebut, Bhre Kerthabumi lengser dari takhtanya.
12. Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya (1478 - 1498 M)
![]() |
| Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya Sumber: wikipedia. Dyah Ranawijaya |
Prabhu Natha Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya atau Pa Bu Ta La merupakan raja Majapahit XII yang berkuasa di Daha dari tahun 1478 sampai 1498 yang bergelar Brawijaya VI. Pada tahun 1478, Girindhrawardhana diserang oleh Raden Patah. Penyerangan tersebut disebabkan karena takhta sah ayahnya, Bhre Kerthabumi diambil alih oleh Girindhrawardhana yang memindahkan ibu kota ke Daha. Perang ini dikenal sebagai Perang Sudarma Wisuta. Karena serangan tersebut, Majapahit berhasil ditundukkan oleh Demak Bintara dan menjadi bawahan Kesultanan Demak.
Girindhrawardhana yang mendapat dukungan penuh dari pasukan Portugis melakukan pemberontakan terhadap Demak Bintara. Di mana waktu itu, Demak Bintara dibawah kekuasaan Sultan Trenggana, putra Raden Patah. Pemberontakan Girindhrawardhana berhasil dipadamkan. Girindhrawardhana beserta pengikutnya melarikan diri.
13. Patih Hudhara (1499 - 1518 M)
Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Ditambah dengan semakin banyaknya Kerajaan Islam yang menduduki tanah Jawa saat itu. Konflik keluarga kerajaan disinyalir menjadi penyebab lain runtuhnya Kerajaan Majapahit. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Perang Paregreg yang memperebutkan kekuasaan pasca Hayam Wuruk wafat yang memperlemah kerajaan.
Pergantian kekuasaan tersebut berlanjut, tetapi tidak ada raja secakap Hayam Wuruk dan Mahapatih setangguh Gajah Mada yang mampu mempertahankan tahta. Hingga akhirnya Kerjaan Majapahit kehilangan kedudukannya setelah Kerajaan Demak menyerang di tahun 1478. Demak yang kala itu dipimpin oleh Pati Unus berhasil menduduki Majapahit, dan mengambil alih pemerintahan. Pati Unus adalah penguasa kerajaan Demak (1518 - 1521). Hal ini dapat dipahami sebagai luluh lantaknya kekuasaan Majapahit dalam ekspansi Demak pada tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat lain, berkuasanya Demak tidak lain adalah lanjutan dari sengketa antara Kertabhumi dan Ranawijaya. Karena dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Raden Patah menyatakan keturunan dari Prabu Brawijaya V, Kertabhumi.
Peninggalan - peninggalan Kerajaan Majapahit
Runtuhnya Majapahit tidak langsung membuat kejayaannya benar-benar hilang dari Nusantara. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit menjadi bukti bahwa kejayaan dan kemahsyuran Kerajaan Majapahit tersebut pernah ada di Nusantara. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi, prasasti, dan kitab.
Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit
1. Candi Tikus
 Candi Tikus adalah salah satu candi bersejarah Kerajaan Majapahit dan terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914. Ketika candi ini ditemukan, masih terkubur. Baru pada tahun 1985 Candi Warisan Kerajaan Majapahit digali lagi. Asal usul nama “Tikus” itu sendiri digunakan karena lokasi asli candi itu adalah sarang tikus.
Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke XIII atau abad ke-XIV. Di dalam Kitab Nagarakertagama, Mpu Prapanca mengatakan bahwa dulunya candi ini adalah tempat pertitraan atau pemandian serta tempat upacara raja-raja terdahulu. Denah bangunan Candi yang terbuat dari bahan batu bata merah ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 meter persegi dan memiliki ketinggian sekitar 5,20 meter dari dasar kolam sampai pada ketinggian permukaan tanah di sekitarnya.
![]() |
| Candi Tikus Sumber: pinterest https://pin.it/3t6fvSS |
2. Candi Cetho
Candi Cetho adalah candi gaya Hindu bersejarah dari kerajaan Majapahit. Terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, tepatnya berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut. Diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-15 (hari-hari terakhir kerajaan Majapahit).
Candi kerajaan Majapahit pertama kali ditemukan sebagai benda tersembunyi pada tahun 1928 oleh layanan arkeologi dari era Hindu-Hindu. Penemuan ini merupakan upaya untuk menindaklanjuti laporan ilmiah tentang keberadaan sebuah candi di lokasi ini oleh orang Belanda Van de Vlies pada tahun 1842.
![]() |
| Candi Cetho Sumber: pinterest https://pin.it/3ogTdDs |
3. Candi Sukuh
Candi Sukuh adalah candi Kerajaan Majapahit yang terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter, di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh ditemukan pada tahun 1815 oleh seorang warga Surakata bernama Johnson. Penemuan kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Van Der Vlis, arkeolog Belanda, pada tahun 1842. Konon, candi ini didirikan pada abad ke 15 M semasa pemerintahan Suhita, Ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1429 - 1446. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.
Berbeda dengan candi Hindu lainnya, candi ini tidak memiliki bentuk persegi. Para ahli percaya bahwa candi ini dibangun ketika agama Hindu di Jawa mulai memudar. Candi ini dianggap kontroversial karena adanya beberapa ukiran di dinding candi yang mewakili alat kelamin.
![]() |
| Candi Sukuh Sumber: tribunnews.com. Candi Sukuh |
4. Candi Bajang Ratu
Candi Bajang Ratu atau Gapura Bajang Ratu adalah salah satu candi bersejarah Kerajaan Majapahit di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pada kitab Pararaton disebutkan Raja Jayanegara dinobatkan sebagai raja ketika masih kecil, sehingga kata bajang yang artinya kerdil dan digabung dengan kata ratu sehingga menjadi sebutan gelar ratu bajang atau bajang ratu bagi Raja Jayanagara. Candi ini dibangun pada abad ke 14, berbentuk gapura yang terbuat dari batu bata merah, dimana pada jaman dahulu difungsikan sebagai pintu belakang kerajaan sekaligus sebagai bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanagara.
![]() |
| Candi Bajang Ratu Sumber: pinterest https://pin.it/5bhW5Dw |
5. Candi Wringin Lawang
Peninggalan kerajaan Majapahit berikutnya adalah candi atau sering disebut gerbang Wringin Lawang, yang terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini dibangun dari bata merah dengan luas dasar 13 × 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Bangunan itu diperkirakan berasal dari abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya Candi Bentar atau tipe gerbang terbelah.
Para ahli sepakat bahwa candi ini adalah pintu masuk menuju pusat ibu kota kerajaan Majapahit. Ada juga yang berpendapat bahwa candi ini adalah pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.
![]() |
| Candi Wringin Lawang Sumber: pinterest https://pin.it/dokFH5d |
6. Candi Jabung
Candi Jabung terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Seperti candi sebelumnya, candi Jabung dibangun dari bahan batu merah. Dalam kitab Nagarakertagama, menyatakan bahwa candi ini pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk, raja Majapahit pada lawatannya keliling Jawa Timur pada tahun 1359 M.
Arsitektur Candi Jabung terdiri dari empat bagian, bagian Batur dari bawah, kemudian kaki, badan dan atap candi.
![]() |
| Candi Jabung Sumber: pinterest https://pin.it/3IjVqNC |
7. Candi Brahu
Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tempat ini adalah tempat di mana area yang dulunya menjadi pusat ibukota kerajaan Majapahit di masa lalu. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M. Candi ini dibangun dari batu bata merah. Ketinggian candi ini mencapai 20 meter, panjangnya 22 meter dan lebarnya 18 meter.
Ada pendapat yang mengatakan, bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Asal usul nama “Brahu” diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.
![]() |
| Candi Brahu Sumber: pinterest https://pin.it/4dutWnl |
8. Candi Pari
Candi Pari adalah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sama seperti candi sebelumnya, candi ini dibangun dari batu bata merah. Kuil Pari berbentuk bujur sangkar di sebelah barat.
Menurut batu yang tertulis di atas gerbang, candi ini dibangun pada tahun 1293 Saka (1371 M) untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat atau adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. Batu ini merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350 - 1389 M).
![]() |
| Candi Pari Sumber: pinterest https://pin.it/54cIQvf |
9. Candi Surawana
Candi Surawana adalah candi peninggalan kerajaan Majapahit di Kediri atau lebih tepatnya di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Candi peninggalan Hindu Siwa ini sering disebut sebagai Wisnnubhawanaputra. Pembangunan candi diperkirakan pada abad ke-14 untuk memuliakan Bhre Wengker, seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Raja Wengker ini mangkat pada tahun 1388 M. Dalam Negarakertagama diceritakan bahwa pada tahun 1361 Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah berkunjung bahkan menginap di Candi Surawana.
![]() |
| Candi Surawana Sumber: pinterest https://pin.it/6CVlqKR |
10. Candi Wringin Branjang
Candi Wringin Branjang adalah candi bersejarah Kerajaan Majapahit yang terbuat dari batu andesit yang terletak di Desa Gandungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Candi ini memiliki bentuk sederhana, tinggi 5 meter, panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Candi Wringin Branjang sendiri berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat upacara dari zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 M.
![]() |
| Candi Wringin Branjang Sumber: pendidikanmu.com. Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit |
Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit
●Prasasti Alasantan (939 Masehi), ditemukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto
●Prasasti Kamban (941 Masehi), ditemukan tertulis dalam bahasa Kawi
![]() |
| Prasasti Kamban Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Hara-Hara (966 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan VI
●Prasasti Maribong (1264 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan II
●Prasasti Wurare (1289 Masehi), ditemukan di daerah Kandang Gajak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto
![]() |
| Prasasti Wurare Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Kudadu (1294 Masehi), ditemukan di lereng Gunung Butak di wilayah perbatasan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
| Prasasti Kudadu Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Sukamerta (1296 Masehi), ditemukan di Gunung Penanggungan, dikenal juga sebagai Prasasti Raden Wijaya.
![]() |
| Prasasti Sukamerta Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Butulan (1298 Masehi), ditemukn di Kawasan Pegunungan Kapur Utara di Kabupaten Gresik.
![]() |
| Prasasti Butulan Sumber: antarafoto. Prasasti Butulan. |
●Prasasti Balawi (1305 Masehi), ditemukan di Desa Blawi di wilayah Kabupaten Lamongan.
![]() |
| Prasasti Balawi Sumber: |
| ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Biluluk I (1366 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan
●Prasasti Canggu 1280 Saka (1358 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan I. Prasasti ini menyebutkan terdapat 34 pelabuhan di sepanjang Sungai Brantas.
![]() | |
| Prasasti Canggu Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Karang Bogem (1387 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.
![]() |
| Prasasti Karang Bogem Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Katiden I (1392 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Malang.
![]() |
| Prasasti Katiden I Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya. |
●Prasasti Biluluk II (1393 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.
●Prasasti Biluluk III (1395 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.
●Prasasti Lumpang (1395 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Malang dan dikenal sebagai prasasti Katiden II.
●Prasasti Waringin Pitu (1447 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.
●Prasasti Marahi Manuk, ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.
●Prasasti Parung, ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Karya Sastra Sumber Sejarah Kerajaan Majapahit
1. Kitab Pararaton
Isi dari kitab Pararaton adalah tentang sejarah dari raja-raja yang pernah memimpin Majapahit dan kerajaan Singasari di wilayah Jawa Timur. Hingga saat ini belum diketahui siapa gerangan yang menulis kitab Pararaton yang menjadi sumber sejarah Majapahit.
Naskah Pararaton diawali dengan kisah tentang reinkarnasi Ken Arok yang merupakan tokoh pendiri Kerajaan Singasari pada tahun 1222 hingga 1292 Masehi. Diketahui bahwa hampir setengah bagian kitab menceritakan kisah perjalanan hidup Ken Arok sebelum ia berhasil naik tahta.
2. Kitab NagaraKertagama
Nagarakertagama atau Kakawin Nagarakertagama merupakan sebuah kitab peninggalan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Prapanca atau Dang Acarya Nadendra pada tahun saka 1287 (1365 M). Kitab ini merupakan salah satu kitab yang paling terkenal dengan kitab-kitab lainnya sepanjang sejarah Majapahit.
Kitab ini diketahui telah ditulis sejak tahun 1365 Masehi. Sebenarnya, kitab ini memiliki nama asli Desawarnana yang berarti uraian tentang desa-desa. Namun, nama asli yang diberikan oleh sang penulis kian lama kian dilupakan dan tidak disebutkan lagi.
Isi dari kitab Negara Kertagama ialah uraian tentang kondisi keraton Majapahit ketika dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk dan dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Pada masa kekuasaannya, Majapahit berhasil meraih masa keemasan dan kejayaan. Bagian terpenting teks ini tentu saja menguraikan daerah-daerah "wilayah" Kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti.
3. Kitab Sutasoma
4. Kitab Sundayanan
Sumber sejarah kerajaan Majapahit selanjutnya adalah kitab Sundayanan yang disebut juga dengan Kidung Sunda. Kitab Sundayanan merupakan sebuah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan.
Kitab ini mengisahkan salah satu perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau pada tahun 1357 M yang dinamakan dengan Perang Bubat.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
#festivalmajapahittabanan


































