Minggu, 08 November 2020

        Pasti kalian pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara. Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar "dyah" merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar "Raden". Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari  "Ra Dyah" atau "Ra Dyan" atau "Ra Hadyan". Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit pada tahun 1294. Menurut kitab Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Cempaka yang merupakan pangeran Singasari. Raden Wijaya tumbuh di istana kerajaan Singasari.

Kerajaan Majapahit terletak di atas Hutan Tarik di sekitar tepi Sungai Brantas. Pada saat awal berdirinya, kerajaan Majapahit berpusat di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Namun, saat kekuasaan beralih pada Raja Jayanegara, ibukota dipindahkan ke daerah Trowulan. Tidak berselang lama, ibukota dipindahkan lagi ke daerah Kediri pada tahun 1456 Masehi. Kerajaan Majapahit berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M.

Peta Kerajaan Majapahit
Sumber: pinterest https://pin.it/1HbXXKe


Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk dengan bantuan Patih Gajah Mada yang berhasil menguasai wilayah yang luas di Nusantara. Menurut Kakawin Negarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaannya terbentang dari Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filifinameskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.


Kerajaan Majapahit



 Daftar Isi:


● Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit


●Silsilah Kerajaan  Majapahit


● Runtuhnya Kerajaan Majapahit


● Peninggalan-peninggalan Kerajaan                    Majapahit

       • Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit

       • Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit

       • Karya Sastra Sumber Sejarah Kerajaan                     Majapahit

● Kesimpulan


● Daftar Pustaka

     


Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit


 Runtuhnya Singasari 

      Kisah Kerajaan Majapahit dimulai pada akhir abad ke 13 M diawali dengan runtuhnya Singasari dan adanya serangan dari Jayakatwang (Adipati Kadiri).  Menurut Prasasti Kudadu, pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara. Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Raden Wijaya kembali ke istana, ia melihat istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar kerajaan lainnya. Serangan ini dilancarkan pada tahun 1292 M, pada waktu bersamaan Ketika Singasari mengirimkan sebagian pasukannya untuk melawat dalam rangkaian Ekspedisi Pamalayu. Setelah Singasari runtuh, seluruh kerabat Kertanegara melarikan diri, termasuk Raden Wijaya yang merupakan menantu sekaligus keponakan dari Kertanegara. Raden Wijaya melarikan diri ke Madura bersama tiga sahabatnya yakni Sora, Nambi, dan Ranggalawe.

Di desa Kudadu, Raden Wijaya disambut dan dibantu bersembunyi dari kejaran musuh. Atas bantuan kepala desa, Raden Wijaya diterima berlindung kepada Aria Wiraraja, penguasa Songeneb (nama lama Sumenep). 

Bersama Aria Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Raden Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Raden Wijaya menyatakan menyerah kalah. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Raden Wijaya di pelabuhan Jungbiru. Setelah Jayakatwang percaya, Raden Wijaya meminta hutan Tarik di Trowulan untuk dijadikan desa. Dengan bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya membuka hutan Tarik menjadi desa. Menurut Kidung Panji Wijayakrama, salah satu orang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, desa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut pun diberi nama Majapahit.
      
Raden Wijaya berhasil memikat hati penduduk untuk tinggal di tempat baru. Penduduk berdatangan dari Tumapel dan Daha. 

Datangnya Pasukan Mongol dan Kekalahan Jayakatwang

 
        Khubilai Khan, penguasa Kekaisaran Mongol mengirim invasi besar ke pulau Jawa dengan 20,000 sampai 30,000 tentara. Serangan ini merupakan bagian dari ekspedisi dalam menghukum raja Kertanegara selaku raja dari Kerajaan Singhasari yang menolak membayar upeti dan bahkan melukai utusan Mongol, Meng Qi. Namun, pasukan utusan Kubilai Khan tidak tahu bahwa Raja Kertanegara sudah mati dan digantikan oleh Jayakatwang. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan oleh Raden Wijaya yang menyimpan balas dendam terhadap Jayakatwang sejak kematian Kertanegara.  Raden Wijaya mengajak pasukan Kubilai Khan untuk menyerang Singhasari. Raden Wijaya kemudian memberikan peta daerah kerajaan Singhasari untuk memudahkan penyerangan. Selain itu, Raden Wijaya juga memberikan taktik khusus agar berhasil menyerang pasukan Jayakatwang. Meskipun pasukan utusan Kubilai Khan tidak menemukan sasaran utamanya yaitu Kertanegara, namun pada akhirnya pasukan Kubilai Khan berhasil memukul mundur kerajaan Singhasari bersama rajanya Jayakatwang.

Raden Wijaya Berbalik Menyerang Pasukan Mongol


       Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya kembali ke Majapahit dengan alasan untuk mempersiapkan upeti dalam rangka simbolis kerjasama atau bersekutu dengan pasukan Mongol. Namun, sesampainya di Majapahit, Raden Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta merayakan kemenangannya. Serangan mendadak itu membuat Jenderal Mongol kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya secara kalang kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terhakir mereka untuk menangkap angin muson agar mereka bisa pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di negeri asing.

         Pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja Majapahit yang pertama. Setelah dinobatkan menjadi raja, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa. 

Silsilah Kerajaan Majapahit


Silsilah keluarga Kerajaan Majapahit
Sumber: pinterest https://pin.it/7mV1anp


      Para penguasa Majapahit merupakan penerus dari Kerajaan Singhasari, yang dirintis oleh Sri Ranggah Rajasa, pendiri Wangsa Rajasa pada akhir abad ke-13. Berikut daftar raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit dan perkembangannya.

1. Raden Wijaya (1293 - 1309 M)


Raden Wijaya
Raden Wijaya
Sumber: wikipedia. Raden Wijaya.


      Raden Wijaya atau yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana adalah raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1293 - 1309. Raden Wijaya menikmati hasil-hasil dari ekspedisi yang dikirimkan oleh Singasari, salah satunya Ekspedisi Pamalayu. Perjalanan ini memperoleh hasil yang gemilang baik secara materi maupun pengakuan kekuasaan dari wilayah-wilayah yang jauh.
 
Menurut prasasti Balawi dan Nagarakertagama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanagara, yaitu ThribuwaneswariNarendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan menurut Pararaton, ia hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Petak, yaitu salah satu dari dua putri yang dibawa kembali dari Melayu. Raden Wijaya juga mengangkat pengikut-pengikutnya menjadi pembesar kerajaan. Nambi menjadi rakryan mapatih , Sora menjadi rakryan apatih di Daha, Wenang menjadi amanca nagara di Tuban, Lawe menjadi Adipati Datara. Dan pada tahun 1294 Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.

Terjadinya Pemberontakan Lembu Sora dan Ranggalawe


       Pada tahun 1295 seorang tokoh licik bernama Mahapati Dyah Halayudha mengabarkan kepada raja bahwa Rangga Lawe hendak memberontak. Konflik ini adalah awal dari kekacauan selama dua puluh tahun awal kerajaan berdiri.Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Kebo Anabrang yang merupakan panglima kerajaan berhasil membunuh Ranggalawe. 

Setelah Ranggalawe tewas, Aria Wiraraja mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia menagih janji Wijaya tentang pembagian wilayah kerajaan. Wijaya mengabulkannya. Maka, sejak saat itu, wilayah kerajaan pun hanya tinggal setengah, di mana yang sebelah timur dipimpin oleh Aria Wiraraja dengan ibu kota di Lamajang (nama lama Lumajang).
Pada tahun 1300 terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. Dalam pemberontakan Ranggalawe, Sora memihak Majapahit. Namun, ketika Ranggalawe dibunuh dengan kejam oleh Kebo Anabrang, Sora merasa tidak tahan dan berbalik membunuh Kebo Anabrang. Atas prakarsa dari Mahapati, Sora disingkirkan dari kerajaan setelah bertempur melawan raja dalam tahun 1298 - 1300 M. Peristiwa ini diungkit-ungkit oleh Mahapati sehingga terjadi suasana perpecahan. Pada puncaknya, Sora dan kedua kawannya, yaitu Gajah Biru dan Jurudemung tewas dibantai kelompok Nambi di halaman istana.

Akhir Hayat

      Menurut Nagarakertagama, setelah memerintah selama 16 tahun, Raden Wijaya meninggal pada tahun 1309. Ia dicandikan di Antahpura dengan Arca Jina dan didharmakan di Simping dengan Arca Siwa. Di sana terdapat sebuah arca perwujudan, yang menunjukkan ciri pencampuran tokoh Siwa dan Wisnu yang disebut dengan Harihara. Raden Wijaya digantikan oleh putranya, Jayanagara.


2. Jayanagara (1309 - 1328 M)


Jayanagara
Sumber: wikipedia. Jayanagara.

       

       Jayanagara merupakan raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1309 - 1328, bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara.  Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Kala Gamet yang berarti "penjahat lemah". Kalagamet merupakan putra dari Raden Wijaya dan Dara Petak. Ibunya berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra.

Nagarakertagama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota.

Terjadinya Pemberontakan Nambi, Ra Semi, dan Ra Kuti

       Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh pengikut ayahnya. Salah satunya akibat masih eksisnya Mahapati dalam lingkaran kerajaan.

Menurut Nagarakertagama dan Pararaton, Nambi meninggal pada tahun 1316 karena difitnah oleh Mahapati Dyah Halayudha. Dikisahkan bahwa Nambi mendengar berita bahwa ayahnya, Aria Wiraraja sedang sakit keras. Nambi pun mengambil cuti untuk pulang ke Lamajang. Sesampainya di Lamajang, ayahnya telah meninggal. Mahapati datang untuk melayat menyampaikan ucapan duka cita dari raja dan menyarankan agar memperpanjang cutinya. Tetapi, saat di depan raja, Mahapati berbohong dan mengatakan bahwa Nambi menolak untuk kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan. Jayanagara pun mempercayai perkataan Mahapati tersebut dan mengirim pasukan untuk menumpas Nambi. Nambi tidak menduga datangnya serangan mendadak dari pasukan Majapahit. Ia pun membangun benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Namun kedua benteng tersebut dapat dihancurkan pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi dan keluarganya tewas dalam peperangan tersebut.

Pararaton selanjutnya mengisahkan adanya pemberontakan Ra Kuti yang terjadi pada tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit dan jauh lebih berbahaya dari pemberontakan Ra Semi. Kisahnya dimulai adanya ketidakpuasan atas kepemimpinan Prabu Jayanagara sebagai raja. Ra Kuti menghasut penjabat-penjabat Majapahit agar mau berpihak padanya. Akhirnya Ra Kuti berhasil mempengaruhi pejabat-pejabat Majapahit.

Setelah memiliki strategi untuk melawan Majapahit, akhirnya pasukan Ra Kuti menyerang Majapahit. Majapahit makin terdesak oleh pasukan Ra Kuti, dan akhirnya Majapahit harus menerima kekalahannya. Ra Kuti yang memenangkan perang tersebut, berhasil menduduki tahta Majapahit. Ra Kuti akhirnya menobatkan diri sebagai Maharaja Majapahit dengan gelar Sri Maharaja Agung Batara Prabu Kuti Wisnumurti.

Sementara itu, pimpinan pasukan Bhayangkara, Gajah Mada berhasil mengamankan rajanya di Desa Badander dan kembali menyusun kekuatan. Setelah segala sesuatunya sudah siap, denga sejumlah pasukan dan sisa kekuatan yang ada, akhirnya Gajah Mada menggempur Majapahit yang dikuasai oleh Ra Kuti. Dalam serangan tersebut, Ra Kuti, Ra Wedang, Ra Pangsa, Ra Yuyu, dan Ra Banyak bersama sisa pasukannya terbunuh, yang artinya pemberontakan Ra Kuti dapat ditumpas.

Setelah membersihkan sisa-sisa pengikut Ra Kuti, maka Gajah Mada kembali membawa Prabu Jayanagara ke Majapahit. Prabu Jayanagara kembali memimpin Kerajaan Majapahit. Raja juga membunuh Mahapati setelah menyadari fitnahnya yang menyebabkan konflik berkepanjangan untuk mengamankan posisi patih amangkhubumi. Kemudian atas jasanya menumpas Ra Kuti, Gajah Mada diangkat sebagai patih Kahuripan, dan kemudian patih Daha.

Pararaton mengisahkan Ra Semi melakukan pemberontakan di daerah Lasem pada tahun 1318. Pemberontakan ini akhirnya dapat dipadamkan oleh pihak Majapahit dimana, Ra Semi tewas dibunuh di bawah pohon kapuk.

Akhir Hayat

        Pada tahun 1328, Jayanagara meninggal di tangan Ra Tanca. Kisahnya bermula saat Ra Tanca, yang seorang tabib diminta oleh Jayanagara untuk mengoperasi bisul yang dideritanya. Dalam operasi tersebut Jayanagara dibunuh oleh Ra Tanca di tempat tidurnya. Gajah Mada yang melihat hal tersebut langsung membunuh Ra Tanca.

Menurut Pararaton, Jayanagara didharmakan dalam Candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nagarakertagama ia dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. 

3. Tribhuwana Tunggadewi (1328 - 1350 M)


Tribhuwana Tunggadewi
Sumber: sejarahmajapahitlengkap. Silsilah dan Biografi Tribhuwana Tunggadewi, Penguasa Wanita di Majapahit.



    Sepeninggal raja terdahulu, sebenarnya kekuasaan kerajaan diturunkan kepada Gayatri atau Rajapatni sang permaisuri Raden Wijaya. Akan tetapi, Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk putrinya Tribhuwana Tunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit.

Tribhuwana Tunggadewi merupakan ratu I yang memerintah Majapahit pada tahun 1328 - 1350 M. Dari prasasti Singashari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Thribuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani yang memiliki nama asli Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri (Rajapatni).

Pada masa pemerintahan Tribhuwana, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Namun pemberontakan Sadeng dan Keta bisa diatasi oleh sang suami yaitu Cakradhara dan dibantu oleh sang patih Gajah Mada

Gajah Mada Mengucapkan Sumpah Palapa

      Sebagai hadiah karena berhasil menumpas pemberontakan Sadeng dan Keta, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Hamangkubhumi, untuk menggantikan posisi Arya Tadah. Gajah Mada menyambutnya dengan mengucapkan Sumpah Palapa. 


Gajah Mada
Sumber: wikipedia. Gajah Mada.


Sumpah Palapa ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".


Terjemahannya:

Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".


Dapat dikatakan bahwa Tribhuwana Tunggadewi merupakan ratu yang mengawali kejayaan Majapahit. Selama pemerintahan Tribhuwana, Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Buktinya adalah penaklukan Bali pada tahun 1343, melalui pertempuran yang hebat dan memakan daya yang sangat besar. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai tahun 1350. Ia kemudian menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan. Ia diteruskan oleh putranya Hayam Wuruk.

Menurut Pararaton, Bhre Kahuripan meninggal setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371. Thribhuwanottungadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di Desa Panggih. Sedangkan suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386, dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan.

4. Hayam Wuruk (1350 - 1389 M)


Hayam Wuruk
Sumber: wikipedia. Hayam Wuruk.


     Hayam Wuruk adalah raja keempat dari Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1350 - 1389 M yang bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Hayam Wuruk dilahirkan pada tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Hayam Wuruk merupakan anak dari Tribhuwana Tunggadewi, putri Raden Wijaya dan Sri Kertawardhana (Cakradhara), raja bawahan di Singhasari yang bergelar Bhre Tumapel. Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi yang bergelar Paduka Sori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Paduka Sori adalah saudara sepupu Hayam Wuruk, anak tiri Rajadewi. Dari perkawinan itu lahirlah Kusumawardhani. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi.

Hayam wuruk diangkat menjadi raja pada usia nya yang masih sangat muda, yaitu 16 tahun. Meskipun usianya masih sangat muda, Hayam Wuruk adalah raja yang bijaksana dan tangguh.
Bersama dengan Mahapatih Gajah Mada, Hayam Wuruk berhasil menjadikan Majapahit kerajaan terbesar di eranya saat itu. Menduduki hampir seluruh Wilayah Nusantara, hingga memperluas kekuasaan ke Thailand, Singapura, dan Malaysia. Saat pemerintahannya, Majapahit mengalami puncak kejayaan sekaligus awal kemunduran Majapahit.

Mengalami Puncak Kejayaan Sekaligus Awal Kemunduran Majapahit

        Penyatuan Nusantara yang diucapkan Gajah Mada pada Sumpah Palapa saat pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi mampu dilaksanakan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk atau selama masa jabatannya, sekitar 21 tahun (1336 - 1357 M). Gajah Mada berhasil menaklukkan wilayah-wilayah sebagai lanjutan dari perluasan cakrawala mandala Majapahit ke Nusantara Timur, sampai dengan wilayah semenanjung Malaya. Hayam Wuruk berupaya meningkatkan kesejahteraan penduduknya, seperti membuat bendungan, saluran pengairan, dan pembukaan tanah baru untuk pertanian. 

Di masa pemerintahannya, banyak infrastruktur yang dibangun. Banyak karya sastra yang diciptakan, seperti Nagarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Selain itu, ada juga Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Seni dan budaya juga berkembang pesat.

Pada tahun 1351, Hayam Wuruk hendak memperistri puteri Raja Galuh/Pajajaran, Dyah Pitaloka Citaresmi. Hal ini ternyata ditafsirkan berbeda oleh Gajah Mada. Ketika dalam perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak Kerajaan Galuh untuk menyerahkan puterinya sebagai upeti dan tunduk kepada Majapahit. Kerajaan Galuh menolak permintaan tersebut, akhirnya pecah pertempuran antara Majapahit dan Kerajaan Galuh yang disebut dengan Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357. Perang tersebut menewaskan seluruh rombongan Kerajaan Galuh. Tradisi menyebutkan bahwa sang puteri yang kecewa, dengan hati remuk redam melakukan "bela pati", bunuh diri untuk membela kehormatan negaranya. Akhirnya dalam beberapa tahun Kerajaan Galuh menjadi wilayah Majapahit.


Peta lokasi Pelabuhan Cangu dan Alun-alun Bubat
Sumber: pinterest https://pin.it/1ygnE9g


Akibat peristiwa itu, Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya sebagai mahapatih karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan. Namun pada akhirnya, Gajah Mada aktif kembali beberapa tahun kemudian.

Menurut Nagarakertagama, saat Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan upacara keagamaan ke Simping (Blitar) dikejutkan dengan berita Gajah Mada sakit. Dia segera kembali ke ibu kota Majapahit.

Pada tahun 1364, Mahapatih Gajah Mada meninggal tanpa keterangan jelas mengenai penyebabnya. Tahun 1367 Hayam Wuruk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Amangkhubumi. 

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389, 25 tahun setelah meninggalnya Gajah Mada. Hayam Wuruk dimakamkan di Candi Ngetos Nganjuk. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, perlahan-lahan Majapahit mengalami kemunduran. Hayam Wuruk digantikan oleh menantunya Wikramawarddhana.


5. Wikramawardhana (1389 - 1427 M)



Wikramawardhana
Sumber: wikipedia. Wikramawardhana.


      Menurut Pararaton, sepeninggal Hayam Wuruk tahun 1389, Kusumawardhani dan Wikramawardhana naik tahta dan memerintah secara berdampingan. Wikramawardhana adalah raja kelima Majapahit yang memerintah pada tahun 1389 - 1427 M dengan gelar Bhre Hyang Wisesa Aji Wikrama. Nama aslinya adalah Raden Gagak Sali. Ibunya bernama Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Sedangkan ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, bergelar Singhawardhana. Wikramawarddhana adalah keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk yang kawin dengan Kusumawarddhani, putri Hayam Wuruk. Sedangkan permaisurinya, Kusumawardhani adalah putri dari Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dari perkawinan tersebut lahirlah Rajasakusuma. Pararaton menyebutkan bahwa Wikramawardhana juga memiliki tiga orang anak dari selirnya, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya.

Pada tahun 1400, Wikramawardhana turun takhta untuk menjadi seorang pendeta. Kusumawardhani memerintah secara penuh di Majapahit. Menurut Pararaton, Wikramawardhana kembali menjadi raja, karena Kusumawardhani meninggal dunia pada tahun 1401. Kusumawardhani dicandikan di Pabangan, bernama Laksmipura.

Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg) antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi

       Pada tahun 1401 Wikramawardhana berselisih dengan Bhre Wirabhumi, saudara tiri Kusumawardhani. Perang saudara antara Wikramawardhana (Majapahit Barat) dan Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur) disebut sebagai Perang Paregreg (perang yang berangsur-angsur), yang diperkirakan terjadi pada tahun 1405 - 1406.

Pada tahun 1406 pasukan Majapahit barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel menghancurkan Majapahit timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Dari penyerangan tersebut, pihak  Bhre Wirabhumi menderita kekalahan. Akhirnya, Bhre Wirabhumi ditangkap dan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Raden Gajah (Bhra Narapati) yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung dengan nama Girisa Pura.

Pasca Perang Paregreg, Wikramawardhana memboyong Bhre Dhaha, putri Bhre Wirabhumi untuk dijadikan istri. 

Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang. 

Wikramawardhana sebenarnya digantikan oleh Rajasakusuma, putra mahkota dari Kerajaan Majapahit yang bergelar Hyang Wekasing Sukha, tetapi ia meninggal sebelum sempat menjadi raja. Kemudian ia digantikan oleh Bhre Tumapel sebagai putra mahkota. Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram, putri Bhre Pandansalas. 

Akan tetapi, pada tahun 1426, bencana kelaparan melanda Majapahit. Bhre Tumapel meninggal sebelum sempat menjadi raja pada tahun 1427. Ia dicandikan di Lokerep bernama Asmarasaba. Disusul kemudian kematian istri dan putranya, Bhre Lasem dan Bhre Wengker.

Wikramawardhana meninggal pada akhir tahun 1427. Ia dicandikan di Wisesapura yang terletak di Bayalangu. Kedudukan sebagai pewaris takhta kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha, putri Bhre Wirabhumi.

6. Suhita (1429 - 1447 M)



Sri Suhita
Sumber: boombastis. Sejarah 4 Wanita Cantik Yang Pernah Berkuasa di Nusantara.


      Sri Suhita merupakan ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1429 - 1447 M, yang bergelar Dyah Ayu Kencana Wungu. Sri Suhita memerintah bersama suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.

Pada tahun 1433, Sri Suhita membalas dendam pada Raden Gajah yang telah membunuh Bhre Wirabhumi, kakeknya.

Pada tahun 1437, Bhatara Parameswara Ratnapangkaja meninggal. Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1447, Sri Suhita meninggal pula. Mereka dicandikan bersama di Singhajaya.

Karena tidak memiliki putra mahkota, Sri Suhita digantikan oleh adiknya, Dyah Kertawijaya.

7. Dyah Kertawijaya (1447 - 1451 M)



Dyah Kertawijaya
Sumber: pinterest

       Pada tahun 1447 masehi, Kertawijaya naik takhta menjadi raja ketujuh Majapahit yang memerintah pada tahun 1447 - 1451 M, dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakrawarrdhana atau Brawija I. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel. Menurut pararaton, Kertawija adalah putra Wikramawardhana dari selirnya. 

Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus. Tak hanya itu saja, Kertawijaya mendapat halangan yang merintang yakni peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel. 

Dyah Krrtawijaya turun takhta sesudah gagal menghadapi pemberontakan Rajasawardhana. Kertawijaya akhirnya meninggal pada tahun 1451. Ia kemudian dicandikan di Kertawijayapura.

8. Rajasawardhana (1451 - 1453 M)



Rajasawardhana
Sumber: pinterest


       Raja ke delapan Majapahit ini bergelar Brawijaya II. Rajasawardhana merupakan raja Majapahit yang menggantikan Dyah Kertawijaya. Berdasarkan Serat Pararaton, Rajasawardhana identik dengan Bhra Hyang Purwawisesa.

Ada yang percaya bahwa sang raja merupakan adik dari Kertawijaya yang melakukan kudeta dan membunuh kakaknya. Namun, pararaton menyebutkan bahwa sang Raja merupakan putra sulung Kertawijaya.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya prasasti Waringin Pitu pada tahun 1447 Masehi. 

Kekuasaan Rajasawardhana berakhir pada tahun 1453 Masehi dan selama 3 tahun belum ada penggantinya sehingga Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan hingga tahun 1456 M. Menurut catatan sejarah, kekosongan pemerintahan Majapahit dikarenakan perebutan kekuasaan antara Rajaswardhana Dyah Suryawikrama dan Girishawardhana Dyah Samarawijaya. Dalam perebutan kekuasaan tersebut, berhasil dimenangkan oleh Girishawardhana.

9. Girishawardhana (1456 - 1466 M)



Girishawardhana
Sumber: dictio.id

      Setelah mengalami kekosongan kekuasaan selama 3 tahun lamanya, akhirnya Majapahit mendapatkan raja baru yaitu Girisawardhana Dyah Suryawikrama pada tahun 1456 - 1466 Masehi, dengan gelar Brawijaya III. Pada masa kepemimpinannya, Majapahit diwarnai dengan bencana gunung meletus yang terjadi pada tahun 1462.

Menurut sejarah yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Waringin Pitu, raja Girishawardhana merupakan putra kedua Raja Kertawijaya.

Pada tahun 1466, Girishawardhana meninggal dan dicandikan di Puri. Ia digantikan oleh Bhre Pandasalas sebagai raja selanjutnya

10. Singhawikramawardhana (1466 - 1468 M)



Singhawikramawardhana
Sumber: pinterest https://pin.it/13GY94B

       Singhawikramawardhana yang dikenal dengan nama Dyah Suraprabhawa atau Bhre Pandansalas memerintah Majapahit dari tahun 1388 hingga 1396 Saka (1466 - 1468 M) dengan gelar Brawijaya IV.

Pada tahun 1468, kekuasaan Singhawikramawardhana digulingkan oleh keponakannya sendiri yakni Bhre Kerthabumi. Singhawikramawardhana mengungsi ke Daha. Sejak saat itu, Singhawikramawardhana digantikan oleh Bhre Kerthabumi.

Menurut Prasasti Trailokyapuri yang dikeluarkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) meninggal pada tahun 1474. Setelah meninggal, Dyah Suraprabawa disebut dengan gelar anumerta Bhatara Mokteng Dahanapura.

11. Bhre Kertabhumi (1468 - 1478 M)

       Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V merupakan raja Majapahit yang memerintah hingga akhir hayatnya pada tahun 1478 Masehi. Prabu Brawijaya merupakan keturunan langsung Rajasawardhana, raja ke delapan Majapahit. Namun saat memimpin pemerintahan, Majapahit sudah berada diambang keruntuhan. Pada tahun 1478, Bhre Kerthabumi merestui putranya yang lahir dari selir Cina, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak dengan pusat pemerintahan di Bintara (Glagahwangi).

Pada tahun 1478, kekuasaan Bhre Kerthabumi yang berpusat di Majakerta (Trowulan), digulingkan oleh Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya (putra Singhawardhana Dyah Samarawijaya). Akibat serangan Girindhrawardhana tersebut, Bhre Kerthabumi lengser dari takhtanya.

12. Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya (1478 - 1498 M)


Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya
Sumber: wikipedia. Dyah Ranawijaya


        Prabhu Natha Girindhrawardhana Dyah Ranawijaya atau Pa Bu Ta La merupakan raja Majapahit XII yang berkuasa di Daha dari tahun 1478 sampai 1498 yang bergelar Brawijaya VI. Pada tahun 1478, Girindhrawardhana diserang oleh Raden Patah. Penyerangan tersebut disebabkan karena takhta sah ayahnya, Bhre Kerthabumi diambil alih oleh Girindhrawardhana yang memindahkan ibu kota ke Daha. Perang ini dikenal sebagai Perang Sudarma Wisuta. Karena serangan tersebut, Majapahit berhasil ditundukkan oleh Demak Bintara dan menjadi bawahan Kesultanan Demak.

Girindhrawardhana yang mendapat dukungan penuh dari pasukan Portugis melakukan pemberontakan terhadap Demak Bintara. Di mana waktu itu, Demak Bintara dibawah kekuasaan Sultan Trenggana, putra Raden Patah. Pemberontakan Girindhrawardhana berhasil dipadamkan. Girindhrawardhana beserta pengikutnya melarikan diri. 

13. Patih Hudhara (1499 - 1518 M)

      Patih Hudhara adalah seorang patih (rakyan apatih atau hamangkubhumi) Kerajaan Majapahit pada pemerintahan Dyah Ranawijaya. Patih Hudhara diketahui sebagai seorang pemegang kekuasaan terhakir sisa-sisa Kerajaan Majapahit dengan gelar Brawijaya VII pada tahun 1499 - 1518 M, sebelum akhirnya diambil alih seutuhnya oleh Kesultanan Demak.

Menurut keterangan Babad Tanah Jawi, Patih Hudhara merupakan anak dari Patih Wahan, dan semula menjabat sebagai seorang adipati di Kediri.


Runtuhnya Kerajaan Majapahit


       Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Ditambah dengan semakin banyaknya Kerajaan Islam yang menduduki tanah Jawa saat itu. Konflik keluarga kerajaan disinyalir menjadi penyebab lain runtuhnya Kerajaan Majapahit. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Perang Paregreg yang memperebutkan kekuasaan pasca Hayam Wuruk wafat yang memperlemah kerajaan.

Pergantian kekuasaan tersebut berlanjut, tetapi tidak ada raja secakap Hayam Wuruk dan Mahapatih setangguh Gajah Mada yang mampu mempertahankan tahta. Hingga akhirnya Kerjaan Majapahit kehilangan kedudukannya setelah Kerajaan Demak menyerang di tahun 1478. Demak yang kala itu dipimpin oleh Pati Unus berhasil menduduki Majapahit, dan mengambil alih pemerintahan. Pati Unus adalah penguasa kerajaan Demak (1518 - 1521). Hal ini dapat dipahami sebagai luluh lantaknya kekuasaan Majapahit dalam ekspansi Demak pada tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat lain, berkuasanya Demak tidak lain adalah lanjutan dari sengketa antara Kertabhumi dan Ranawijaya. Karena dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Raden Patah menyatakan keturunan dari Prabu Brawijaya V, Kertabhumi.


Peninggalan - peninggalan Kerajaan Majapahit

    Runtuhnya Majapahit tidak langsung membuat kejayaannya benar-benar hilang dari Nusantara. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit menjadi bukti bahwa kejayaan dan kemahsyuran Kerajaan Majapahit tersebut pernah ada di Nusantara. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi, prasasti, dan kitab.

Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit


1. Candi Tikus

      Candi Tikus adalah salah satu candi bersejarah Kerajaan Majapahit dan terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914. Ketika candi ini ditemukan, masih terkubur. Baru pada tahun 1985 Candi Warisan Kerajaan Majapahit digali lagi. Asal usul nama “Tikus” itu sendiri digunakan karena lokasi asli candi itu adalah sarang tikus.

      Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke XIII atau abad ke-XIV. Di dalam Kitab Nagarakertagama, Mpu Prapanca mengatakan bahwa dulunya candi ini adalah tempat pertitraan atau pemandian serta tempat upacara raja-raja terdahulu. Denah bangunan Candi yang terbuat dari bahan batu bata merah ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 meter persegi dan memiliki ketinggian sekitar 5,20 meter dari dasar kolam sampai pada ketinggian permukaan tanah di sekitarnya.


Candi Tikus
Sumber: pinterest https://pin.it/3t6fvSS

2. Candi Cetho

      Candi Cetho adalah candi gaya Hindu bersejarah dari kerajaan Majapahit. Terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, tepatnya berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut. Diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-15 (hari-hari terakhir kerajaan Majapahit).

Candi kerajaan Majapahit pertama kali ditemukan sebagai benda tersembunyi pada tahun 1928 oleh layanan arkeologi dari era Hindu-Hindu. Penemuan ini merupakan upaya untuk menindaklanjuti laporan ilmiah tentang keberadaan sebuah candi di lokasi ini oleh orang Belanda Van de Vlies pada tahun 1842.


Candi Cetho
Sumber: pinterest https://pin.it/3ogTdDs

3. Candi Sukuh

      Candi Sukuh adalah candi Kerajaan Majapahit yang terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter, di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh ditemukan pada tahun 1815 oleh seorang warga Surakata bernama Johnson. Penemuan kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Van Der Vlis, arkeolog Belanda, pada tahun 1842. Konon, candi ini didirikan pada abad ke 15 M semasa pemerintahan Suhita, Ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1429 - 1446. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928.

Berbeda dengan candi Hindu lainnya, candi ini tidak memiliki bentuk persegi. Para ahli percaya bahwa candi ini dibangun ketika agama Hindu di Jawa mulai memudar. Candi ini dianggap kontroversial karena adanya beberapa ukiran di dinding candi yang mewakili alat kelamin.

Candi Sukuh
Sumber: tribunnews.com. Candi Sukuh


4. Candi Bajang Ratu

        Candi Bajang Ratu atau Gapura Bajang Ratu adalah salah satu candi bersejarah Kerajaan Majapahit di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pada kitab Pararaton disebutkan Raja Jayanegara dinobatkan sebagai raja ketika masih kecil, sehingga kata bajang yang artinya kerdil dan digabung dengan kata ratu sehingga menjadi sebutan gelar ratu bajang atau bajang ratu bagi Raja Jayanagara. Candi ini dibangun pada abad ke 14, berbentuk gapura yang terbuat dari batu bata merah, dimana pada jaman dahulu difungsikan sebagai pintu belakang kerajaan sekaligus sebagai bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanagara.


Candi Bajang Ratu
Sumber: pinterest https://pin.it/5bhW5Dw

5. Candi Wringin Lawang

       Peninggalan kerajaan Majapahit berikutnya adalah candi atau sering disebut gerbang Wringin Lawang, yang terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini dibangun dari bata merah dengan luas dasar 13 × 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Bangunan itu diperkirakan berasal dari abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya Candi Bentar atau tipe gerbang terbelah. 

Para ahli sepakat bahwa candi ini adalah pintu masuk menuju pusat ibu kota kerajaan Majapahit. Ada juga yang berpendapat bahwa candi ini adalah pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.


Candi Wringin Lawang
Sumber: pinterest https://pin.it/dokFH5d

6. Candi Jabung

       Candi Jabung terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Seperti candi sebelumnya, candi Jabung dibangun dari bahan batu merah. Dalam kitab Nagarakertagama, menyatakan bahwa candi ini pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk, raja Majapahit pada lawatannya keliling Jawa Timur pada tahun 1359 M.

Arsitektur Candi Jabung terdiri dari empat bagian, bagian Batur dari bawah, kemudian kaki, badan dan atap candi. 


Candi Jabung
Sumber: pinterest https://pin.it/3IjVqNC

7. Candi Brahu

        Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tempat ini adalah tempat di mana area yang dulunya menjadi pusat ibukota kerajaan Majapahit di masa lalu. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M. Candi ini dibangun dari batu bata merah. Ketinggian candi ini mencapai 20 meter, panjangnya 22 meter dan lebarnya 18 meter. 

Ada pendapat yang mengatakan, bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Asal usul nama “Brahu” diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.


Candi Brahu
Candi Brahu
Sumber: pinterest https://pin.it/4dutWnl

8. Candi Pari

       Candi Pari adalah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sama seperti candi sebelumnya, candi ini dibangun dari batu bata merah. Kuil Pari berbentuk bujur sangkar di sebelah barat.

Menurut batu yang tertulis di atas gerbang, candi ini dibangun pada tahun 1293 Saka (1371 M) untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat atau adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. Batu ini merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350 - 1389 M).  


Candi Pari
Sumber: pinterest https://pin.it/54cIQvf

9. Candi Surawana

      Candi Surawana adalah candi peninggalan kerajaan Majapahit di Kediri atau lebih tepatnya di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. 

Candi peninggalan Hindu Siwa ini sering disebut sebagai Wisnnubhawanaputra. Pembangunan candi diperkirakan pada abad ke-14 untuk memuliakan Bhre Wengker, seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Raja Wengker ini mangkat pada tahun 1388 M. Dalam Negarakertagama diceritakan bahwa pada tahun 1361 Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah berkunjung bahkan menginap di Candi Surawana.


Candi Surawana
Sumber: pinterest https://pin.it/6CVlqKR

10. Candi Wringin Branjang

      Candi Wringin Branjang adalah candi bersejarah Kerajaan Majapahit yang terbuat dari batu andesit yang terletak di Desa Gandungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. 

Candi ini memiliki bentuk sederhana, tinggi 5 meter, panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Candi Wringin Branjang sendiri berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat upacara dari zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 M.


Candi Wringin Branjang
Sumber: pendidikanmu.com. Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit



Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit

●Prasasti Alasantan (939 Masehi), ditemukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto

●Prasasti Kamban (941 Masehi), ditemukan tertulis dalam bahasa Kawi


Prasasti Kamban
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.


●Prasasti Hara-Hara (966 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan VI

●Prasasti Maribong (1264 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan II

●Prasasti Wurare (1289 Masehi), ditemukan di daerah Kandang Gajak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto


Prasasti Wurare
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.


●Prasasti Kudadu (1294 Masehi), ditemukan di lereng Gunung Butak di wilayah perbatasan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.




Prasasti Kudadu
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.


●Prasasti Sukamerta (1296 Masehi), ditemukan di Gunung Penanggungan, dikenal juga sebagai Prasasti Raden Wijaya.


Prasasti Sukamerta
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.



●Prasasti Butulan (1298 Masehi), ditemukn di Kawasan Pegunungan Kapur Utara di Kabupaten Gresik.


Prasasti Butulan
Sumber: antarafoto. Prasasti Butulan.


●Prasasti Balawi (1305 Masehi), ditemukan di Desa Blawi di wilayah Kabupaten Lamongan.


Prasasti Balawi
Sumber: 
ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.



●Prasasti Biluluk I (1366 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan

●Prasasti Canggu 1280 Saka (1358 Masehi), dikenal juga sebagai prasasti Trowulan I. Prasasti ini menyebutkan terdapat 34 pelabuhan di sepanjang Sungai Brantas.


Prasasti Canggu
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.



●Prasasti Karang Bogem (1387 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.


Prasasti Karang Bogem
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.


●Prasasti Katiden I (1392 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Malang.


Prasasti Katiden I
Sumber: ips.pelajaran. 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya.


●Prasasti Biluluk II (1393 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.

●Prasasti Biluluk III (1395 Masehi), ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.

●Prasasti Lumpang (1395 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Malang dan dikenal sebagai prasasti Katiden II.

●Prasasti Waringin Pitu (1447 Masehi), ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

●Prasasti Marahi Manuk, ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

●Prasasti Parung, ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto.


Karya Sastra Sumber Sejarah Kerajaan Majapahit


1. Kitab Pararaton

       Isi dari kitab Pararaton adalah tentang sejarah dari raja-raja yang pernah memimpin Majapahit dan kerajaan Singasari di wilayah Jawa Timur. Hingga saat ini belum diketahui siapa gerangan yang menulis kitab Pararaton yang menjadi sumber sejarah Majapahit.

Naskah Pararaton diawali dengan kisah tentang reinkarnasi Ken Arok yang merupakan tokoh pendiri Kerajaan Singasari pada tahun 1222 hingga 1292 Masehi. Diketahui bahwa hampir setengah bagian kitab menceritakan kisah perjalanan hidup Ken Arok sebelum ia berhasil naik tahta.


2. Kitab NagaraKertagama

     Nagarakertagama atau Kakawin Nagarakertagama merupakan sebuah kitab peninggalan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Prapanca atau Dang Acarya Nadendra pada tahun saka 1287 (1365 M). Kitab ini merupakan salah satu kitab yang paling terkenal dengan kitab-kitab lainnya sepanjang sejarah Majapahit.

Kitab ini diketahui telah ditulis sejak tahun 1365 Masehi. Sebenarnya, kitab ini memiliki nama asli Desawarnana yang berarti uraian tentang desa-desa. Namun, nama asli yang diberikan oleh sang penulis kian lama kian dilupakan dan tidak disebutkan lagi.

Isi dari kitab Negara Kertagama ialah uraian tentang kondisi keraton Majapahit ketika dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk dan dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Pada masa kekuasaannya, Majapahit berhasil meraih masa keemasan dan kejayaan. Bagian terpenting teks ini tentu saja menguraikan daerah-daerah "wilayah" Kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti.


3. Kitab Sutasoma

     Kitab Sutasoma merupakan salah satu kitab peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Tantular. Kitab ini menceritakan tentang seorang pangeran dari Negeri Hastinapura, Sutasoma, yang keluar dari istana demi menjadi seorang pendeta Buddha. Dalam Kitab Sutasoma terdapat ungkapan yang berbunyi "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa"

4. Kitab Sundayanan

      Sumber sejarah kerajaan Majapahit selanjutnya adalah kitab Sundayanan yang disebut juga dengan Kidung Sunda. Kitab Sundayanan merupakan sebuah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan.

Kitab ini mengisahkan salah satu perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau pada tahun 1357 M  yang dinamakan dengan Perang Bubat.



Kesimpulan

     Dari pemaparan di atas dapat dijelaskan bahwa:

●Kegigihan Gajah Mada untuk mewujudkan Sumpah Palapa, yaitu mempersatukan nusantara di bawah Kerajaan Majapahit perlu kita contoh dalam mencapai cita-cita dan mimpi agar bisa mewujudkannya

●Perang saudara hanya akan memecahbelahkan sekaligus memperlemah tali persaudaraan. Dengan begitu, orang luar dengan mudahnya mengadu domba agar terjadi kesalahpahaman antar sesama.

●Kita harus melestarikan situs-situs dan peninggalan-peninggalan bersejarah, seperti candi dan prasasti, agar generasi muda dapat mengerti sejarah-sejarah yang terjadi pada masa lalu dan bisa menjadi yang lebih baik di masa yang akan datang.




                      Daftar Pustaka



Wikipedia. Raden Wijaya https://id.m.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya Diakses tanggal 7 November 2020 pada pukul 10.00

Studiobelajar.com. Kerajaan Majapahit https://www.studiobelajar.com/kerajaan-majapahit/#:~:text=Raden%20Wijaya%20atau%20Kertarajasa%20sebagai,dari%20wilayah%2Dwilayah%20yang%20jauh. Diakses tanggal 7 November 2020 pukul 14.20
 
Blog.edukasystem.com. Masa Kejayaan dan Keruntuhan Majapahit https://blog.edukasystem.com/masa-kejayaan-dan-keruntuhan-kerajaan-majapahit/ Diakses tanggal 7 November 2020 pukul 20.05

Pendidikanmu.com. Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit https://pendidikanmu.com/2020/07/candi-peninggalan-kerajaan-majapahit.html Diakses tanggal 8 November 2020 pukul 09.50

Zonareferensi.com. Peninggalan Kerajaan Majapahit https://www.zonareferensi.com/peninggalan-kerajaan-majapahit/ Diakses tanggal 8 November 2020 pukul 12.35

Blog.edukasystem.com. Sumber Sejarah Kerajaan Majapahit https://blog.edukasystem.com/sumber-sejarah-kerajaan-majapahit/ Diakses tanggal 8 November 2020 pukul 17.02

Kompasiana.com. Menguak Sejarah Raja Raja Majapahit https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5df70e27097f361e42570712/menguak-sejarah-raja-raja-majapahit Diakses tanggal 9 November pukul 10.21

Kompasiana.com. Kudeta Berdarah Ra Kuti Hingga Berhasil Jadi Raja Majapahit https://www.kompasiana.com/sigit19781986/5f747aed097f3649b919ef63/kudeta-berdarah-ra-kuti-hingga-berhasil-jadi-raja-majapahit Diakses tanggal 9 November 2020 pukul 19.25


#festivalmajapahit

#festivalmajapahittabanan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

        Pasti kalian pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini meru...